
romero.web.id - Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin punya pengalaman menegangkan ketika mengawal Presiden ke-2 RI Soeharto dalam kunjungan ke Bosnia-Herzegovina padahal negara ini tengah dilanda peperangan.
Saat itu, Sjafrie yang menjabat Komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) dibuat was-was dengan keputusan Soeharto yang ngotot datang ke daerah konflik.
Bukan hanya nekat berkunjung, Soeharto juga menolak menggunakan helm dan rompi antipeluru. Ia lebih memilih mengenakan jas dan kopiah selama berada di Bosnia.
Awal mula Soeharto kunjungi Bosnia
Sjafrie membagikan pengalamannya mengawal Soeharto saat berkunjung ke Bosnia dalam buku berjudul Pak Harto: the Untold Stories (2002) yang diterbitkan oleh Gramedia.
Sjafrie menceritakan, sebelum Soeharto dan rombongan berangkat ke Bosnia, mereka singgah di Zagreb. Presiden lalu bertemu Presiden Kroasia Franjo Tudjman.
Saat tiba di Zagreb, Sjafrie mendapat kabar bahwa pesawat yang ditumpangi Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Yasushi Akashi ditembak ketika bertolak ke Bosnia. Beruntung tidak ada korban dalam kejadian ini.
Namun, penembakan terhadap pesawat Utusan Khusus PBB tetap membuat rekan-rekan yang menunggu di Bosnia menunggu kepastian terkait kedatangan Soeharto.
Setelah mengadakan pertemuan, Soeharto berpamitan dengan Tudjman sambil mengungkapkan rencananya berkunjung ke Bosnia.
“Saya pamit dulu pergi ke Sarajevo (Bosnia),” kata Soeharto saat berpamitan.
Bagi Sjafrie, ucapan tersebut menjadi isyarat bahwa Presiden sama sekali tak gentar berangkat ke wilayah konflik.
Soeharto bersama rombongan akhirnya merealisasikan agenda kunjungan ke Bosnia pada 13 Maret 1995 menggunakan pesawat buatan Rusia yang juga dipakai PBB.
Karena keterbatasan kursi, hanya dua orang yang diperkenankan mengawal Presiden secara langsung.
Sjafrie berangkat bersama Mayor CPM Unggul K. Yudhoyono selaku Komandan Detasemen Pengawal Pribadi Presiden.
Adapun rombongan lain yang ikut serta dalam kunjungan tersebut, yakni Menteri Luar Negeri Ali Alatas, Menteri Sekretaris Negara Moerdiono, dan Panglima ABRI Jenderal TNI Faisal Tanjung.
Soeharto juga didampingi Kepala Badan Intelijen ABRI Mayjen TNI Syamsir Siregar, Komandan Paspampres Mayjen Jasril Yakub, serta Ajudan Presiden Kolonel Inf Sugiono.
Soeharto tolak pakai helm dan rompi antipeluru
Sjafrie menceritakan, semua penumpang yang ikut dalam kunjungan ke Bosnia diminta mengisi formulir pernyataan risiko sesuai prosedur keamanan PBB.
Pada saat itu, ia mengambil dua formulir untuk dirinya sendiri dan Soeharto.
Formulir yang diambil oleh Sjafrie ternyata menarik perhatian Soeharto. Presiden kemudian bertanya kertas apa yang sedang dibawa oleh pengawalnya ini.
“Apa itu?” tanya Soeharto.
“Pernyataan risiko, tanggung perorangan Pak,” jawab Sjafrie.
Soeharto lantas bertanya mana formulir untuknya lalu mengambil kertas yang dipegang oleh Sjafrie.
Ia segera menandatangani formulir tersebut sebelum menyerahkannya kembali ke Sjafrie untuk dilengkapi.
Sjafrie kemudian menyerahkan formulir supaya pesawat segera diberangkatkan ke Bosnia.
Pesawat akhirnya berangkat dari Zagreb menuju Sarajevo, Bosnia. Penerbangan berlangsung selama satu jam.
Sebelum mendarat, rombongan mendapat instruksi untuk segera mengenakan helm dan rompi karena pesawat akan memasuki daerah perang.
Tanpa disangka, Soeharto tidak mengikuti instruksi tersebut. Hal ini menimbulkan kebingungan bagi Sjafrie.
Di tengah suasana tegang, Presiden tiba-tiba bertanya apakah bagian di bawah tempat duduk pesawat sudah dilapisi antipeluru.
Sjafrie menjawab bahwa bagian bawah dan samping telah ditutup dengan balas troop untuk mencegah tembakan dari arah bawah.
Mendengar jawaban Sjafrie, Soeharto tetap bersikap tenang. Namun, sikap sang Presiden tidak serta-merta membuat pengawal Presiden bebas dari rasa was-was.
Sjafrie akhirnya berpindah tempat duduk ke kursi di depan Soeharto sambil memegang rompi dan helm dengan harapan Presiden akan memintanya.
Namun, Soeharto malah menyuruh Sjafrie untuk memasukkan helm ke Taman Purna Bhakti di Taman Mini.
Soeharto bahkan meminta Sjafrie hanya membawa rompi antipeluru, alih-alih memakainya sebagai bentuk perlindungan diri.
Sjafrie hanya bisa menyahut “Siap,” meski tahu semua orang di dalam rombongan telah mengenakan rompi seberat 12 kilogram.
Rompi yang dibawanya bukan rompi biasa, melainkan milik Paspampres yang mampu menahan tembakan senapan laras panjang M-16.
Karena menolak menggunakan rompi dan helm, Soeharto hanya tampil dengan jas dan kopiah.
Melihat hal itu, Sjafrie ikut mengenakan kopiah, tetapi memakai rompi di balik jas, kemudian menutupinya dengan overcoat agar tidak terlihat.
Keputusan memakai kopiah bukan tanpa alasan. Sjafrie berharap langkah ini bisa mengecoh sniper agar kesulitan mengidentifikasi target utama.
Soeharto tiba di Sarajevo dengan tenang
Sjafrie menyampaikan, Soeharto menginjakkan kaki di Sarajevo dengan tenang.
Padahal, pesawat yang ditumpangi rombongan sempat diintai oleh senjata 12,7 mm yang biasa dipakai untuk menembak jatuh pesawat.
Senjata tersebut bergerak mengikuti arah pesawat yang ditumpangi Soeharto bersama rombongan.
Namun, Sjafrie baru memberitahukan hal ini ketika hendak meninggalkan Sarajevo.
Ketika tiba di Sarajevo, Sjafrie mengawal Soeharto dari jarak dekat, sementara Unggul berjalan di depan Presiden.
Hal tersebut merupakan instruksi Soeharto kepada Sjafrie satu hari sebelum bertolak ke Bosnia.
Soeharto bersama rombongan kemudian dijemput oleh Pasukan PBB menggunakan Panser VAB buatan Perancis dengan kapasitas sepuluh orang per unit.
Pada saat itu, Soeharto memutuskan masuk ke panser nomor lima. Di dalam rantis, rombongan melakukan briefing dengan Atase Pertahanan RI di Sarajevo dan Dandenwalpri.
Soeharto hanya mengangguk-anggukan kepala saat melihat pengawalnya briefing sambil bertanya di mana lokasi yang sedang dilalui panser.
Saat ia bertanya, panser ternyata sedang memasuki sniper valley, tempat yang dipenuhi penembak jitu dari kedua pihak yang sedang bertempur.
Zona berbahaya itu berhasil dilewati hingga rombongan tiba di Istana Kepresidenan Bosnia.
Sjafrie sempat terkejut saat mengetahui Istana Kepresidenan Bosnia tidak memiliki pasokan air, sehingga mereka harus mengambilnya sendiri menggunakan ember.
Situasi makin mencekam
Pertemuan Presiden Soeharto dengan Presiden Bosnia Alija Izetbegovic berlangsung sekitar satu setengah jam, sementara situasi di luar semakin tidak kondusif.
Proyektil meriam bahkan sempat jatuh tiga kilometer dari lokasi pertemuan.
Suasana semakin mencekam ketika suara tembakan terdengar dari kejauhan. Sjafrie pun segera melaporkan kondisi tersebut kepada Soeharto sambil mengingatkan bahwa waktu kunjungan di Bosnia hanya tersisa tiga jam.
Presiden kemudian meminta agar rombongan pulang tepat waktu. Ali Alatas yang tengah berada di ruangan lain juga diinstruksikan menyelesaikan konferensi pers secepat mungkin.
Usai pertemuan, Sjafrie memberanikan diri bertanya mengapa Soeharto nekat datang ke Bosnia di tengah perang.
Jawaban Soeharto begitu menggetarkan. Presiden berkata, Indonesia memang tidak punya uang sebagai Pemimpin Negara Non-Blok.
Namun jika ada negara anggota Non-Blok yang mengalami kesulitan, Indonesia akan membantu dengan “menjenguk”, meski tidak bisa memberi bantuan dana.
“Tapi, ini kan risikonya besar,” kata Sjafrie.
“Ya, itu kita bisa kendalikan. Yang penting orang yang kita datangi merasa senang, morilnya naik, mereka menjadi tambah semangat,” jawab Soeharto.
Posting Komentar untuk "Cerita Sjafrie Sjamsoeddin Kawal Soeharto Saat Perang Bosnia, Presiden Ogah Pakai Rompi Antipeluru"