PIKIRAN RAKYAT - Bermacam-macam foto tiruan seperti figur Paus memakai jaket tebal, letusan di dekat Pentagon, sampai cerita penahanan Boris Johnson mengindikasikan bahwa materi visuel hasil AI terus bertambah dan sulit dibedakan dengan realitas. Gambar-gambar tersebut tak sekadar menyulut kebingungan bagi masyarakat umum, tetapi juga memiliki konsekuensi praktis, layaknya anjlok singkat nilai saham karena adanya foto bohong tentang Pentagon yang tersebar luas sebelum akhirnya dinyatakan sebagai informasi salah.
Sebagai contohnya, foto Paus yang memakai jaket puffer pernah dibagikan sebanyak 20 juta kali hanya dalam waktu satu hari di Twitter. Setelah itu, platform ini pun menginformasikan melalui label bahwa gambar tersebut merupakan hasil buatan kecerdasan buatan dan tidak original.
Ilustrasi itu diciptakan dengan bantuan aplikasi Midjourney, sebuah pembangkit karya seni yang didukung oleh kecerdasan buatan. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi sekarang mampu menghasilkan gambar realistik yang hampir tidak bisa dibedakan dari foto aslinya, melewati batasan-batasan tradisional.
Walaupun begitu, ada beberapa karakteristik yang bisa dipakai untuk mendeteksi citra hasil kecerdasan buatan:
1. Informasi Meta dan Keaslian
Foto asli cenderung menyertakan metadata penuh, termasuk detail kameranya, waktu pengambilannya, serta tempat foto tersebut dibuat. Sebaliknya, gambar buatan kecerdasan buatan (AI) jarang memaparkan rincian teknis atau justru mengandalkan informasi yang kurang akurat. Biasanya juga tak ada tanda-tanda identitas pencipta dalam gambar-gambar ini.
2. Ketidakwajaran Visual
Letak objek yang mencurigakan, penerangan yang tak merata, atau bayangan yang tidak cocok dengan asal-usul cahayanya menandai bahwa foto itu bukan hasil pengambilan oleh kamera.
3. Simetri yang Tak Alamiah
AI kerap kali menciptakan pola yang kelihatan sangat teratur atau ideal hingga nampaknya kurang alami apabila dibandingkan dengan kehidupan sebenarnya.
4.Warnanya Yang Terlalu mencolok
Ilustrasi hasil AI biasanya menampilkan warna dengan tingkat kekontrastan berlebihan atau sangat mencolok, khususnya saat ada elemen yang bersinar secara tidak masuk akal.
5. Efek Ketidakwajaran Wajah
Wajah yang tampak hampir realistis tapi masih terasa aneh kerapkali timbul dari teknologi kecerdasan buatan. Fenomena tersebut dikenal sebagai uncanny valley.
6. Pencarian Gambar Balik
Fitur pencarian mundur semacam yang ada pada Google Images atau TinEye dapat digunakan untuk memeriksa keotentikan sebuah foto. Bila gambarnya sering kali muncul di berbagai website tanpa keterangan asal-usulnya atau tak tampil di laman-laman resmi, maka sebaiknya kita waspada karena itu bisa menjadi indikasi dari informasi bohong.
Di luar penggunaan gambar, kemajuan dalam teknologi deepfake membuat manipulasi video menjadi mungkin, di mana orang tampaknya telah melakukan atau mengatakan hal-hal tertentu tanpa benar-benar terjadi. Berikut beberapa ciri-ciri dari video deepfake: 1. 2. 3. 4.
- Ekspresi wajah yang tidak sejalan dengan gerakan tubuh.
- Ukuran kepala yang berubah saat berkedip.
- Distorsi saat kepala menoleh.
- Ciri-ciri tangan abnormal atau jumlah jari yang tak biasa.
- Refleksi cahaya di mata yang tak stabil.
- Aksesori seperti kacamata terintegrasi dengan kulit.
- Teks pada gambar terlihat sulit dipahami atau berantakan.
Sebaliknya, teknologi AI juga mampu mereplikasi suara dengan akurat. Menggunakan sampel audio yang cukup, sistem ini bisa mensimulasikan obrolan orang tertentu dengan sangat meyakinkan. Sejumlah kasus penipuan sudah melibatkan penggunaan suara sintetis, seperti contoh panggilan telepon di mana suara palsu digunakan untuk mengajukan permintaan dana mendadak.
Perkembangan di bidang teknologi sintesis pun terlihat jelas pada penciptaan video. Perangkat lunak bernama Emo Portrait Alive cukup menggunakan sebuah gambar saja untuk menciptakan animasi wajah yang nampak sangat realistis. Dengan sedikit aturan atau kontrol, jenis karya seperti itu bisa meredam garis pemisah antara kebenaran dengan rekayasa.
Uni Eropa lewat AI EU Act mensyaratkan bahwa semua materi hasil karya kecerdasan buatan harus ditandai dengan jelas. Tujuannya adalah memastikan keransapaian pada penggunaan informasi digital.
Ide pelacakan materi digital atau traceability sangatlah krusial untuk diimplementasikan. Hal ini merujuk pada pemantauan sumber dari sebuah materi, sejarah modifikasi, serta perekaman alur penyebarnya lewat berbagai media platform. Melalui catatan digital yang rapi, publik bisa mengidentifikasi jika ada video yang sudah diretas atau diedit, termasuk memperjelas siapa dalang dibalik hal tersebut.
Video autentik biasanya mempunyai jalannya proses teknis yang jelas, dimulai dengan pencahayaan yang tertangkap kamera, kemudian dikirim ke sensor, diproses melalui enkoder, disimpan atau dialirkan, didecode lagi, dan akhirnya muncul pada layar. Bila ada langkah dalam rangkaian tersebut yang tak terverifikasi, maka status otentikasi videonya menjadi meragukan.
Agar dapat mengecek autentikitas videonya, sejumlah teknologi menggunakan basis blockchain sedang dibuat. Satu di antara itu ialah ContentSign, yang memberi kesempatan pada kamera untuk menggabungkan cap digital langsung ke rekaman video tersebut. Data dari proses ini lalu disimpan dalam jaringan blockchain guna tujuan pengujian validitasnya.
Di samping itu, sistem PROVER mengambil keuntungan dari motif pergerakan khusus saat merekam video. Motif ini dicatat bersama dengan cap jari digital dan verifikasi-nya dilakukan lewat teknologi blockchain. Inovasi ini bisa diimplementasikan dalam banyak bidang mulai dari dunia hukum, industri pendidikan, bukti kepemilikan rekaman video, sampai pemantauan arus lalu lintas.
Walaupun teknologi seperti blockchain dapat meningkatkan otentikasi, hal tersebut belum tentu memberikan jaminan tentang keabsahan isi video sepenuhnya. Konten yang salah masih bisa disisipkan ke dalam sistem melalui berbagai cara verifikasi teknis. Karena alasan itu, pengetahuan kritis dan pendidikan digital harus semakin ditingkatkan. Penting bagi kita untuk mengidentifikasi tanda-tanda konten bohong dan selalu melakukan pemeriksaan terhadap asal-usul informasi demi menjaga keseluruhan integritas data di era perkembangan teknologi pembuat media buatan komputer.
Posting Komentar untuk "AI Gambar dan Video Makin Nyata? Kenali Ciri-Cirinya Sebelum Terkecoh!"