Menelusuri Gerbang Perbatasan Temajuk, Desa Terakhir di Ujung NKRI

KALIMANTAN BARAT, romero.web.id – Perjalanan menuju Desa Temajuk, Sambas, Kalimantan Barat, terasa seperti menelusuri jejak paling ujung negeri.

Dari Wisma PLBN Aruk, tim Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) bersama romero.web.idberangkat pukul 13.10 WIB, menempuh jalur paralel perbatasan yang berliku dan menyuguhkan panorama hutan tropis.

Setelah melintasi kawasan Sanatap, rombongan tiba di Desa Sungai Bening pukul 13.50 WIB. Desa ini berada di Kecamatan Sajingan Besar, yang menjadi jalur penting menuju perbatasan RI-Malaysia.

Di setiap ujung jalan desa, berdiri pos pengendalian penduduk (Dalduk) yang berfungsi sebagai titik pengawasan wilayah perbatasan.

Sepanjang perjalanan, tim menemui dua pos Dalduk, satu di Sungai Bening dan satu lagi setelah melewati Gunung Asuansang. Pos kecil berukuran 2x2 meter itu dijaga 3–4 personel TNI.

Setiap kendaraan yang melintas diwajibkan membuka kaca mobil, dengan tanda sederhana bertuliskan “Buka Kaca” yang ditempel di ban bekas di pinggir jalan.

Kondisi jalan menuju Desa Temajuk bervariasi. Ada jalur yang mulus setelah tambalan aspal, ada pula ruas jalan yang rusak hingga jebol.

Titik jalan yang berlubang diberi tanda garis kuning dan ditimbun batu agar tetap bisa dilalui. Perjalanan semakin menantang ketika jalur menanjak, melewati bukit bebatuan, dengan latar hamparan hutan dan Gunung Asuansang yang menjulang.

Di tengah perjalanan, rombongan sempat melewati Tugu Semut dan Tugu Garuda yang menjadi penanda kawasan Temajuk. Setelah menuruni area pegunungan, jalan mulai mendekat ke bibir pantai.

Rute kemudian berbelok ke kanan memasuki Jalan Takam Patah sejauh 2,8 kilometer dari Jalan Durani, mengarah ke perbatasan Indonesia–Malaysia.

Sekitar pukul 15.30 WIB, atau dua jam perjalanan dari Aruk sejauh kurang lebih 90 kilometer, rombongan akhirnya tiba di gerbang perbatasan darat Temajuk–Telok Melano, Sarawak, Malaysia.

Adapun beberapa titik jaringan di wilayah ini bahkan benar-benar blank spot tanpa sinyal internet sama sekali. Kondisi ini membuat perjalanan serasa benar-benar terisolasi dari dunia luar.

Saat tiba di Desa Temajuk, sinyal Indonesia masih lemah dan tidak stabil. Namun, masyarakat setempat sudah terbiasa dengan kondisi tersebut.

Sebagian warung atau rumah warga menawarkan voucher internet per jam menggunakan jaringan Malaysia.

Dengan membeli paket data lokal operator Malaysia, pengunjung bisa kembali terkoneksi meski sedang berada di wilayah Indonesia.

Desa terakhir di ujung negeri

Temajuk sering disebut sebagai desa terakhir Indonesia. Letaknya yang menjorok ke utara membuat desa ini langsung berbatasan dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia.

Untuk mencapai desa ini, diperlukan waktu tempuh sekitar dua jam dari pusat Kabupaten Sambas.

Sesampainya di Temajuk, pengunjung akan melihat gerbang bertuliskan “Selamat Jalan” dari arah wilayah Indonesia berwarna hitam dengan tiang kuning berukiran khas adat dayak yang menjadi simbol kecamatan paling ujung NKRI.

Sementara dibagian belakang dari arah Malaysia bertuliskan “Selamat Datang di Republik Indonesia” menyambut para pengunjung di pintu masuk desa terakhir di utara Kalimantan Barat ini.

Meski merupakan pintu batas antarnegara, kondisi jalan di sekitar pos masih berupa tanah merah yang dikelilingi pepohonan. Saat musim hujan, jalan licin dan sulit dilalui kendaraan.

Berbeda dengan sisi Malaysia yang sudah beraspal rapi, gerbang Telok Melano dijaga beberapa petugas resmi di perbatasan.

Sepanjang perjalanan menuju Temajuk, terutama setelah melewati kawasan pegunungan dan hutan Asuansang, jaringan telepon seluler nyaris tak bisa digunakan.

Di ujung desa, terdapat pos penjagaan biasa untuk pernjaga perbatasan. Pos berwarna hijau dengan ukuran 5x6 hanya dilengkapi dengan tiang-tiang kayu serta atap seng biasa.

Lebih lanjut, untuk bisa melintas, masyarakat harus mengantongi izin resmi dari petugas. Namun sayangnya semenjak 2020 lintas batas negara tidak lagi bisa diakses oleh masyarakat kedua negara.

Cerita penjaga perbatasan

Di Pos Gabungan (Gabma) Temajuk, romero.web.idbertemu Letnan Dua Arm Mohamad Nur Pratama yang sudah dua bulan bertugas menjaga perbatasan.

Usianya baru 23 tahun, namun tanggung jawabnya besar, mengawal batas negara di wilayah paling ujung Indonesia.

“Kalau di Temajuk ini, sebenarnya banyak masyarakat yang masih satu rumpun keluarga dengan Malaysia. Tapi soal barang dan orang, aturan sangat ketat. Tidak boleh ada yang melintas sembarangan,” kata Nur kepada romero.web.id, Minggu (17/8/2025).

Ia menjelaskan, meski pintu lintas resmi belum ada, interaksi sosial masih kerap terjadi. Warga di kedua sisi perbatasan biasa saling bertemu di pagar batas, terutama saat Idul Fitri.

“Biasanya banyak keluarga yang satu darah, jadi mereka bertemu saat lebaran. Tapi tetap hanya sampai pagar,” ujar dia.

Menurut Nur, kondisi keamanan relatif aman. Ancaman dari hewan buas jarang ditemui. Namun, dia bersama personel lain tetap mengantisipasi jalur tikus yang bisa dipakai untuk penyelundupan.

“Biasanya aktivitas itu banyak di malam hari. Kalau ada yang ketangkap, kita serahkan ke Aruk karena imigrasi di Temajuk belum ada,” ucap dia.

Meski penuh tantangan, Nur mengaku betah bertugas di sini.

“Kami bekerja sepenuh hati. Suka dukanya, ya fasilitas masih terbatas. Tapi bagi kami menjaga perbatasan adalah kehormatan,” tambah dia.

Selain dijaga ketat, Temajuk juga mulai dikenal sebagai destinasi wisata. Banyak warga dari Kalimantan, bahkan dari luar daerah, datang ke gerbang perbatasan hanya untuk berfoto.

“Kalau akhir pekan sering ramai. Biasanya keluarga datang rombongan. Ada juga wisatawan dari Jakarta atau kota lain, sekalian liburan ke Kalimantan. Kalau warga Malaysia jarang, mungkin kurang berminat,” kata Nur.

Pengunjung biasanya berfoto di depan gerbang besar bertuliskan “Selamat Datang di Republik Indonesia”. Dari titik itu, terlihat jelas perbedaan jalan dan gerbang di dua sisi negara.

Meski saat ini hanya berupa pos sederhana, pemerintah sudah menyiapkan rencana pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Tanjung Datuk di Desa Temajuk pada 2025.

PLBN ini akan menjadi yang kedua di Kabupaten Sambas setelah PLBN Aruk.

“Konsepnya, PLBN ini akan menjadi miniatur Indonesia. Dari sini bisa melihat sejarah Sambas, budaya, sekaligus destinasi wisata. Temajuk memang punya keunggulan wisata pantai yang indah,” kata Septiza, Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah Kabupaten Sambas, saat mendampingi Deputi BNPP Ramses Limbong.

Dengan PLBN Temajuk, pemerintah berharap kawasan paling ujung Kalimantan Barat ini tak hanya menjadi benteng batas negara, tetapi juga etalase budaya sekaligus destinasi wisata unggulan Indonesia di perbatasan.

Ekspedisi wilayah perbatasan ini merupakan kerjasama redaksi romero.web.iddengan Badan Nasional Pembangunan Perbatasan (BNPP).

Selain di PLBN Aruk, ekspedisi serupa juga dilaksanakan di PLBN Motaain dan PLBN Motamasin.

Anda dapat mengikuti kisah perjalanan kami beserta liputan perayaan ulang tahun Indonesia di topik pilihan HUT ke-80 RI 2025.

Posting Komentar untuk "Menelusuri Gerbang Perbatasan Temajuk, Desa Terakhir di Ujung NKRI"