
Storybook Children dan Dunia yang Tak Sama Lagi
Pagi itu, Sabtu 23 Agustus 2025, secangkir kopi hangat dari Moka Pot menemani saya memulai hari. Aroma kopi yang menenangkan mengisi ruang, sementara mata saya tertuju pada gambar jadul sepasang penyanyi tempo doeloe : Sandra and Andres. Bagi generasi kini, nama mereka mungkin asing. Namun bagi saya, yang tumbuh di kota kecil Sukabumi, senandung mereka adalah bagian dari kepingan masa lalu yang sulit dilupakan.
Kenangan pun melintas begitu saja. Di rumah sederhana di Sukabumi, saya sering mendengar suara Sandra and Andres melalui radio atau piringan hitam, biasanya dari koleksi abang dan kakak. Dari sekian lagu mereka, ada satu yang begitu membekas: Storybook Children. Bukan hanya karena musiknya yang lembut dan suara keduanya yang menyatu indah, tetapi karena syairnya seakan berbicara langsung pada hati:
"Why can't we be like storybook children, running through the rain, hand in hand across the meadow?"
Lirik sederhana itu menghadirkan kerinduan akan masa kanak-kanak - masa ketika dunia terasa luas, bebas, dan penuh tawa. Masa ketika berlari di bawah hujan adalah kebahagiaan tersendiri.
Masa Kanak-Kanak dan Sukabumi yang Tak Sama Lagi
Lagu itu seakan menjadi pengingat bahwa kehidupan selalu membawa perubahan. Masa kecil penuh keceriaan perlahan bergeser menjadi dunia orang dewasa yang dipenuhi tanggungjawab dan keterpisahan. Dalam syair lain, Sandra and Andres bernyanyi:
"You've got your world; and I've got mine; and it's a shame; two grown up worlds that will never be the same."
Kata-kata itu mengena. Hidup kita memang akhirnya dipisahkan oleh dunia masing-masing. Saya yang dulu berlari hujan-hujanan di jalan kecil Sukabumi, kini menyaksikan kota itu berubah wajah. Sukabumi yang dulu rapi dan tenang, dengan taman-taman kecil dan udara sejuk, kini dipadati kendaraan, bangunan komersial, dan hiruk-pikuk yang kadang membuat saya tak lagi mengenalinya.
Waktu juga memisahkan saya dari orang-orang tercinta. Beberapa saudara sudah berpulang, begitu juga teman-teman masa kecil yang dulu menjadi teman bermain. "Mengapa tidak kembali seperti dulu lagi?" batin saya kadang bertanya. Tetapi saya tahu, seperti dalam lagu, kita tak akan pernah bisa kembali ke masa lalu.
Dari Sukabumi ke Dunia Global
Renungan pribadi itu kemudian melompat ke skala lebih luas. Dunia pun, seperti Sukabumi, berubah tak terelakkan. Saya teringat percakapan dengan sahabat lama saya, Sammy Montana, yang kini tinggal di New York. Ia bercerita tentang pengalamannya menyeberangi Rainbow Bridge, jembatan kecil yang menghubungkan Amerika Serikat dan Kanada di kawasan Niagara. Biaya melintasnya hanya satu dolar, tapi pemandangan yang terbentang begitu mempesona : air terjun megah, langit biru, dan arus deras yang seakan melambangkan kekuatan alam.
Namun, di balik keindahan itu, ada kisah lain. Sammy mengatakan wilayah Buffalo, dekat perbatasan, kini menjadi titik rawan arus imigran gelap dari India, Pakistan, dan Bangladesh. Mereka memanfaatkan status negara-negara itu sebagai anggota Commonwealth, yang membuat urusan administrasi di Kanada relatif mudah. Dari Kanada, mereka mencoba menyusup ke Amerika.
Cerita Sammy membuka mata saya tentang realitas global : pergerakan manusia, imigrasi, dan pencarian kehidupan lebih baik telah menjadi bagian dari wajah dunia modern. Tetapi bagi Amerika, arus imigran sering kali dianggap ancaman.
Amerika : Dari Kejayaan ke Tantangan
Sammy lalu mengingatkan Sejarah : Amerika pernah sangat makmur di era Kennedy. Pertumbuhan ekonomi pesat, moral bangsa tinggi, dan peran global Amerika dominan. Namun kejayaan itu tak berlangsung lama. Pada era Jimmy Carter, ekonomi Amerika mulai melemah karena Jepang dan Eropa bangkit sebagai pesaing.
Di era Clinton, Amerika kembali merasakan kelonggaran. Saat itu, tidak ada perang besar, utang relatif kecil, bahkan anggaran negara berlebih. Sammy menyebut, "pemerintah Amerika waktu itu bisa santai-santai saja." Tetapi kemudian, tragedi 11 September dan serangkaian perang melawan Irak dan Afghanistan membuat ekonomi Amerika terkuras.
Kini, Amerika menghadapi persoalan berat : polarisasi politik, beban utang besar, dan derasnya arus imigran. Trump, yang tampil dengan retorika keras, melihat imigran non-citizen sebagai masalah utama. Sikap kerasnya memicu anggapan rasis, tetapi bagi sebagian warga kulit putih Amerika, itu adalah bentuk perlindungan identitas bangsa.
Dunia Multipolar dan Kebebasan yang Paradoksal
Lebih jauh, dunia kini tak lagi unipolar. Amerika bukan lagi satu-satunya superpower. China tampil sebagai pesaing serius dengan ekonomi dan militernya. India mulai menegaskan kebangkitannya. Rusia, meski goyah, tetap berusaha menjadi penantang. Negara-negara menengah seperti Turki, Iran, dan Arab Saudi memainkan peran regional yang makin penting.
Dunia multipolar ini membuat ide "akhir sejarah" yang dulu dilontarkan Francis Fukuyama terasa usang. Demokrasi liberal, yang digadang-gadang sebagai puncak peradaban, kini justru menghadapi ujian berat. Kebebasan yang menjadi inti demokrasi kerap dimanfaatkan kelompok-kelompok yang justru menolak nilai demokrasi itu sendiri.
Kita pun sempat kaget melihat kampus-kampus ternama di Amerika menjadi arena demonstrasi besar mendukung Hamas atau Iran. Semua itu dibungkus atas nama kebebasan berpendapat. Tetapi paradoksnya jelas : demokrasi justru membuka ruang bagi mereka yang menolak demokrasi.
Jembatan Kontemplasi
Dari Sukabumi hingga Amerika, dari kenangan masa kecil hingga geopolitik global, saya melihat benang merah yang sama: dunia berubah, dan perubahan itu membawa rasa kehilangan.
Seperti lirik Storybook Children:
"Why can't we be like storybook children, in a wonderland, where nothing's planned for tomorrow?"
Dunia masa kecil, dunia Sukabumi yang dulu, atau bahkan dunia internasional yang lebih sederhana di era perang dingin, seakan menjadi "wonderland" yang kini tinggal kenangan. Kita tak lagi bisa berada di sana. Dunia masa kini penuh perencanaan, perhitungan, dan strategi. Tidak ada lagi ruang untuk berlari bebas tanpa memikirkan hari esok.
Refleksi : Tak Akan Sama Lagi
Lagu itu akhirnya menjadi metafora bagi kehidupan manusia dan peradaban. Kita semua pernah menjadi storybook children : bebas, polos, dan penuh harapan. Tapi waktu membawa kita ke dunia yang berbeda. "You've got your world, and I've got mine." Kita tak lagi hidup dalam dunia yang sama.
Begitu pula bangsa-bangsa di dunia. Amerika dengan dunianya sendiri, China dengan jalannya, India dengan kebangkitannya. Sementara kota-kota kecil seperti Sukabumi atau negara-negara berkembang seperti Indonesia harus mencari ruang di antara kekuatan besar yang saling berebut pengaruh.
Namun, meski kita tak bisa kembali, kenangan itu memberi pelajaran. Kita bisa mengambil semangat masa kecil: kebersamaan, ketulusan, dan rasa syukur. Mungkin kita tak lagi bisa menjadi storybook children, tetapi kita bisa menghadirkan nilai-nilai masa lalu untuk menjadikan dunia hari ini lebih manusiawi.
Seperti bait penutup lagu yang sederhana tapi menyentuh :
"How happy we would be, if only we were storybook children."
Kebahagiaan mungkin tak bisa sepenuhnya sama dengan masa lalu. Namun, dengan mengenangnya, kita bisa menjaga agar dunia yang penuh kepentingan ini tidak kehilangan sisi kemanusiaannya.
Kopi Tuwo, Malang, Sat', August 23, 2025.
Posting Komentar untuk "Storybook Children dan Dunia yang Tak Sama Lagi"